Alhamdulillah, anda termasuk “hanya” segelintir orang yang diberi nikmat dan karunia Allah, berupa keberhasilan anda meraih gelar sarjana strata 1 di UAD. Anda harus menyukuri nikmat dan karunia Allah tersebut, dengan jalan menggunakan keberhasilan anda untuk jalan yang di ridlai-Nya, yaitu jalan yang berbarakah. Barakah, adalah kebaikan yang melimpah, tidak saja anda rasakan. Tetapi juga keluarga anda, kerabat anda, teman-teman anda, tetangga anda dan semua orang yang ada di sekitar anda. Bahkan, kebaikan itu mengalir kepada makhluq-makhluq yang lain.

Di antara anda, akan segera akan menikah. Maka menikahlah yang berbarakah. Ada yang akan melanjutkan studi, maka lanjutkanlah studi yang berbarakah. Dan sebagian besar anda, sudah mulai siap-siap untuk memasuki lapangan kerja. Maka masukilah lapangan kerja yang berbarakah.

Ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan untuk mendapatkan pekerjaan yang berbarakah. Yaitu :

  1. Jenis pekerjaan, cara mendapatkan, dan dalam menjalani pekerjaan harus halal. Apabila ada satu saja yang tercecer, maka hasil dari pekerjaan, akan menjadi haram. Rasul Allah telah mengingatkan, secuil saja barang haram masuk kerongkongan kita, maka 40 hari shalat dan doanya tidak digubris oleh Allah. Astagfirullah.
  2. Jangan sekali-kali meninggalkan/menunda-nunda kuwajiban Ilahi dengan alas an “sibuk” kerja. Misalnya, menunda shalat dengan alasan “baru” bekerja. Gunakanlah kesempat-an pertama untuk melakukan kuwajiban. Seorang dosen atau mahasiswa yang sedang kuliah, sedangkan waktu shalat sudah tiba, bersegeralah untuk shalat begitu kuliah sele-sai (tidak menunda-nunda)
  3. Jangan sekali-kali merugikan orang lain dengan alasan pekerjaan. Banyak terjadi peda-gang memberatkan timbangan apabila menjual, sehingga barang yang dijual menjadi lebih ringan,  dan meringankan timbangan waktu membeli, sehingga barang yang dibeli menjadi lebih berat/banyak.
  4. Jangan sekali-kali anda niati kerja anda untuk mencari rizki bagi anda dan keluarga anda. Tetapi niatilah kerja anda, agar kerja anda dan hasilnya bermanfaat bagi orang banyak. Ingat, rizqi yang anda peroleh dari pekerjaan anda, tidak milik mutlak anda semuanya. Ada beberapa bagian yang ternyata milik orang lain yang harus anda berikan kepada yang berhak.
  5. Jangan sekali-kali merugikan diri sendiri dengan alasan sibuk pekerjaan. Berapa banyak orang yang melakukan penyiksaan diri (maniak kerja) dengan alasan kerja. Bahkan tidak mempedulikan kesehatan diri (sakit) dengan alasan kerja. Apalagi jika alas an tidak segera berobat, hanya lantaran “eman-eman” mengeluarkan uang.
  6. Jangan sekali-kali menganggap, hasil yang anda perolah itu mutlak hasil kerja anda. Semua hasil yang anda peroleh, adalah rizqi dari Allah. Tanpa izin-Nya, niscaya anda tidak akan mendapatkan apapun.

Medio Juni 2011

MOHAMMAD RIEZAM

Dosen Prodi PPKn FKIP UAD

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA *