Ketika Warga Merayakan Kemerdekaan
Oleh Dikdik Baehaqi Arif
Kaprodi PPKn Universitas Ahmad Dahlan

Logo resmi HUT ke-81 Republik Indonesia
Ada banyak cara merayakan kemerdekaan.
Jauh sebelum 17 Agustus tiba, warga biasanya sudah mulai mempersiapkannya. Ada kerja bakti membersihkan lingkungan, memasang bendera dan umbul-umbul, menghias kampung dengan ornamen merah putih, hingga menyiapkan berbagai kegiatan untuk menyambut hari kemerdekaan.
Sehari menjelang peringatan kemerdekaan, warga berkumpul dalam malam Tirakatan. Warga berdoa, bersyukur atas kemerdekaan, mengenang perjuangan para pendahulu, sekaligus menikmati kebersamaan.
Keesokan harinya, 17 Agustus, perayaan mencapai puncaknya. Ada upacara bendera, perlombaan, pentas seni, pawai, dan berbagai kegiatan lain yang mempertemukan warga. Di ruang digital, perayaan kemerdekaan juga hadir melalui berbagai ucapan dan ungkapan syukur.
Begitu banyak cara. Tetapi ada satu hal yang mempertemukan semuanya: keterlibatan warga.
Tahun ini, saya pun mendapat kesempatan untuk menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan bersama warga.
Saya mengikuti lomba kategori bapak-bapak dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pada malam Tirakatan, saya mendapat kesempatan menjadi pembaca doa. Saya juga ikut bermain peran pada kesenian ludruk bersama warga.
Bagi saya, ini pengalaman yang berharga. Saya memang tidak terlalu sering mengikuti kegiatan seperti ini. Maka ketika ada kesempatan untuk ikut bersama warga, rasanya sayang kalau dilewatkan. Saya ikut, menikmati suasananya, dan mencoba mengambil bagian dengan apa yang saya bisa.
Dari pengalaman sederhana itu, saya kembali diingatkan bahwa kemerdekaan akan selalu memiliki makna ketika warga bersedia hadir, mengambil bagian, dan merawat kehidupan bersama.
Malam Tirakatan: Ketika Warga Berkumpul
Saya pertama kali mengenal tradisi malam Tirakatan ketika tinggal di Bantul, sekitar sebelas tahun yang lalu. Sebelumnya, tradisi seperti ini tidak terlalu akrab bagi saya.
Sehari menjelang peringatan kemerdekaan, warga berkumpul dalam malam Tirakatan. Mereka bertemu, berdoa, bersyukur atas kemerdekaan, mengenang perjuangan para pendahulu, dan menikmati kebersamaan.
Di lingkungan kami, malam itu terasa hidup.
Ada makan malam bersama, pentas seni anak-anak, remaja, dan orang tua. Ada yang bertugas, ada yang menyiapkan berbagai keperluan, dan ada pula yang hadir untuk menyaksikan serta memberi dukungan.
Sederhana, tetapi terasa sebagai sebuah perayaan yang benar-benar dibuat dan dinikmati bersama oleh warga.
Sambil mengikuti seluruh rangkaian acara, saya memperhatikan satu hal: hampir setiap orang menemukan caranya sendiri untuk mengambil bagian.
Tidak harus sama. Tidak harus besar. Tetapi ketika banyak orang bersedia melakukan sesuatu, sebuah perayaan sederhana menjadi hidup.
Di sinilah saya melihat salah satu wajah civic engagement: keterlibatan warga dalam kehidupan bersama.
Thomas Ehrlich memaknai civic engagement sebagai upaya untuk membuat perbedaan dalam kehidupan kewargaan komunitas dan meningkatkan kualitas hidup bersama, baik melalui proses politik maupun nonpolitik. Dengan pengertian yang luas ini, keterlibatan warga tidak selalu harus berbentuk aktivitas politik. Apa yang dilakukan warga untuk memperkuat kehidupan komunitas juga merupakan bagian dari keterlibatan kewargaan.
Malam tirakatan, dengan segala kesederhanaannya, dapat menjadi salah satu ruang tempat keterlibatan itu tumbuh.
Ludruk dan Gotong Royong Warga
Pengalaman lain yang cukup berkesan bagi saya adalah bermain ludruk.
Kami memberi nama kelompok itu Ludruk Selaras Jiwo, dengan tema “Gotong Royong Warga.”
Saya bukan pemain dan tidak tumbuh dalam tradisi ludruk. Tetapi kali ini saya mendapat kesempatan untuk ikut mengambil bagian dalam sebuah pertunjukan bersama warga.
Menariknya, naskah cerita tidak selalu berjalan persis seperti yang direncanakan ketika sudah berada di panggung.
Ada dialog yang berkembang. Ada improvisasi. Ada respons spontan. Bahkan mungkin ada bagian yang berbeda dari naskah awal.
Tetapi justru di situlah kesenangannya.
Yang terpenting bukan kesempurnaan pertunjukan. Yang penting warga terhibur, mendapatkan pengalaman, dan menemukan makna baru dari kisah yang kami lakonkan.
Tema Gotong Royong Warga akhirnya bukan hanya menjadi tema cerita. Ia menjadi bagian dari pengalaman kami.
Ada yang bermain. Ada yang menyiapkan panggung. Ada yang mengurus perlengkapan. Ada yang membantu konsumsi. Ada yang mengatur suara. Ada yang menonton dan memberikan semangat.
Tidak semua orang melakukan hal yang sama.
Tetapi semua memiliki kesempatan untuk mengambil bagian.
Dan saya kira, begitulah kehidupan bersama.
Kita tidak selalu harus menjadi pemeran utama. Tidak harus pula memiliki kemampuan yang istimewa. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk melihat bahwa ada sesuatu yang dapat kita sumbangkan bagi kehidupan bersama.
Ketika Perayaan Menjadi Ruang Kewargaan
Dari Tirakatan dan Ludruk Selaras Jiwo, saya melihat bahwa perayaan kemerdekaan sebenarnya dapat menjadi ruang kewargaan yang sangat dekat dengan kehidupan kita.
Di sana warga bertemu.
Orang-orang yang mungkin sehari-hari menjalani kesibukan masing-masing kembali duduk bersama. Anak-anak belajar tampil. Remaja belajar bekerja dalam kelompok. Orang dewasa berbagi peran. Ibu-ibu dan bapak-bapak ikut menyiapkan kegiatan. Semua berada dalam satu ruang yang sama sebagai warga.
Inilah yang menarik dari civic engagement.
Keterlibatan warga tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan formal.
Ia bisa muncul dalam keputusan sederhana untuk datang ke kegiatan kampung.
Dalam kesediaan membantu menyiapkan acara.
Dalam keberanian tampil.
Dalam kesediaan menjadi panitia.
Dalam menyumbangkan tenaga, pikiran, makanan, keterampilan, atau sekadar waktu.
Semua itu mungkin tampak kecil. Tetapi kehidupan bersama memang dibangun dari banyak hal kecil yang dilakukan bersama.
Joseph Kahne dan Joel Westheimer, dalam kajian mereka tentang pendidikan untuk demokrasi, membedakan beberapa konsepsi tentang warga negara. Salah satunya adalah participatory citizen, yakni warga yang aktif terlibat dalam urusan sosial dan kehidupan komunitas, termasuk dalam upaya bersama untuk merawat dan memperbaiki kehidupan di lingkungannya.
Gagasan ini terasa dekat dengan apa yang saya alami dalam perayaan kemerdekaan tahun ini.
Menjadi warga bukan hanya tentang mengetahui kehidupan bersama. Menjadi warga juga berarti bersedia mengambil bagian di dalamnya.
Kemerdekaan dan Kehidupan Warga
Tahun ini, pemerintah mengangkat tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Tema tersebut mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukan hanya peristiwa sejarah yang setiap tahun kita peringati, tetapi cita-cita yang terus diupayakan bersama. Identitas visual peringatan tahun ini pun menempatkan rakyat sebagai fondasi utama dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.
Tema itu terasa semakin dekat jika kita melihatnya dari kehidupan warga sehari-hari.
Kedaulatan tidak hanya menjadi urusan negara. Ia juga membutuhkan warga yang merasa memiliki dan bersedia mengambil bagian dalam kehidupan bersama.
Keadilan tidak hanya dibicarakan dalam kebijakan publik. Ia juga tumbuh dari cara kita memperlakukan orang lain, memberi ruang kepada sesama, dan memastikan bahwa kehidupan bersama tidak hanya dinikmati oleh sebagian orang.
Kemakmuran pun tidak hanya tentang angka-angka ekonomi. Ia terasa ketika warga dapat hidup dengan aman, saling membantu, berkarya, dan menikmati lingkungan sosial yang baik.
Karena itu, mungkin kita tidak perlu selalu mencari bentuk keterlibatan yang besar untuk menunjukkan kecintaan kepada Indonesia.
Kadang-kadang, cukup dimulai dari lingkungan terdekat.
Hadir ketika warga berkegiatan.
Bersedia membantu ketika dibutuhkan.
Ikut menjaga lingkungan.
Mau mendengarkan orang lain.
Memberi kesempatan kepada anak-anak dan generasi muda untuk tampil dan belajar.
Atau menyumbangkan kemampuan yang kita miliki untuk sesuatu yang bermanfaat bagi bersama.
Di situlah kemerdekaan menemukan wajahnya dalam kehidupan sehari-hari.
Dan di situlah pula pendidikan kewarganegaraan mendapat tantangannya.
Sebab warga yang aktif tidak lahir hanya dari ceramah tentang pentingnya partisipasi. Mereka tumbuh melalui pengalaman berpartisipasi.
Maka, sekolah dan kampus tidak cukup hanya mengajarkan peserta didik tentang kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka juga perlu memberi ruang untuk mengalami bagaimana rasanya menjadi bagian dari sebuah komunitas, bekerja bersama, mengambil keputusan, dan melakukan sesuatu yang bermakna bagi orang lain.
Kemerdekaan sebagai Perayaan Bersama
Agustus 2026 ini, Republik Indonesia genap berusia 81 tahun.
Setelah mengikuti berbagai kegiatan bersama warga beberapa hari terakhir, saya semakin merasa bahwa kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang kita peringati setiap tahun. Kemerdekaan juga memberi kita kesempatan untuk merasakan kembali arti menjadi bagian dari sebuah komunitas.
Saya datang sebagai warga biasa. Mengikuti lomba, membaca doa, dan bermain ludruk bersama warga. Tidak ada yang istimewa dari apa yang saya lakukan. Tetapi dari pengalaman sederhana itu saya kembali diingatkan bahwa kehidupan kewarganegaraan tidak selalu berlangsung dalam forum yang besar.
Ia ada di tempat kita tinggal.
Ia tumbuh ketika warga bersedia hadir.
Ia hidup ketika orang-orang mau mengambil bagian.
Ia menjadi kuat ketika kita merasa memiliki kehidupan bersama.
Karena pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang kita warisi. Ia adalah kehidupan bersama yang terus kita rawat dengan kesediaan untuk hadir, peduli, dan terlibat sebagai warga negara.




